Selasa, 13 Desember 2016

Festival Kopi Seputuh Ewu Banyuwangi

Kalau di tulisan pembuka saya sempat singgung tentang kebun kopi di halaman rumah nenek saya di Banyuwangi, ini ada hubungannya juga.
Saya seneng banget melihat hamparan kopi di halaman samping apalagi ketika pohon sedang berbunga, menyuguhkan warna putih bunga yang mirip melati dengan keharuman semerbak yang mampu menembus celah dinding rumah sehingga wangi itu tercium saat kita sedang di dalam rumahpun.
Waktu itu saya gak mengira kalau tanah kelahiran ayahku ini merupakan kota penghasil kopi dan menjadi salah satu yang terbesar untuk kopi Java Arabica saat ini. Bahkan bukan sekedar bahan minuman, tapi kopi sudah menjadi bagian dari budaya Banyuwangi sejalan dengan program peningkatan sektor pariwisata sebagai andalan kota ini. 
Salah satu implementasi budaya "ngopi" ini adalah dengan diselenggarakannya festival ngopi sepuluh ewu setiap tahun. Tulisan di bawah berikut ini saya ambil sebagai kutipan dari beritasatu.com.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi sukses menggelar Festival Ngopi Sepuluh Ewu, di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (5/11) malam. Selain berhasil mengangkat pamor kopi asal Banyuwangi, festival tersebut mampu mengangkat perekonomian petani kopi yang ada di wilayah berjuluk The Sunrise of Java ini.
Jajang Nuryaman (25), salah seorang wirausahawan kopi asal Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, turut menikmati manisnya penyelenggaraan festival Ngopi Sepuluh Ewu.
"Alhamdulillah, kopi saya semakin laris. Sejak ada festival ngopi, penjualan kami naik 50 persen dari sebelumnya," kata pemilik merek Traditional Coffee Manjehe ini, Minggu (6/11).
Jajang menceritakan, bisnis yang tengah digelutinya saat ini merupakan usaha keluarga yang dirintis sang ayah sejak 11 tahun silam. Kala itu, ayahnya hanya melayani pemesanan bubuk kopi untuk warga lokal Banyuwangi. Dalam sebulan, kopi yang dijual ayahnya sebanyak 8 kilogram bubuk kopi dalam kemasan plastik sederhana. Kopinya diambil dari perkebunan Kalibendo, yang terletak di lereng kaki Gunung Ijen.
Menurut Jajang, ayahnya juga adalah seorang roaster (penyangrai kopi) tradisional yang handal. Banyak warga membeli kopi ke ayahnya, lantaran cita rasanya yang nikmat karena ayahnya dinilai menguasai teknik menyangrai kopi yang tepat.
"Orang-orang bilang kopi ayah enak. Saya pun berpikir kenapa tidak mengembangkan bisnis ini. Teman-teman juga menyemangati saya agar meneruskan usaha ayah. Dari sanalah, saya tertarik untuk terjun ke bisnis kopi, apalagi sekarang ada festival ngopi yang membuat kopi Banyuwangi semakin diminati," tutur Jajang.
Jajang pun akhirnya memutuskan untuk mulai mengembangkan usaha orang tuanya sejak dua tahun silam. Pertimbangannya, seiring pamor kopi Banyuwangi yang mulai naik, perkembangan wisata Banyuwangi yang juga semakin meningkat otomatis akan akan menumbuhkan pasar baru bagi kopi Banyuwangi.
Hal pertama yang dlakukan Jajang adalah melakukan pengemasan produknya meningkatkan nilai jual produk agar bisa bersaing dengan yang lain. Kopi olahannya lalu di-brand Manjene, dengan packaging yang lebih atraktif dan higienis.
Selain melakukan pengemasan yang menarik, lanjut dia, Jajang pun mematikan kualitas produknya. "Rasanya saya jamin enak, karena kami memiliki teknik penyangraian yang berbeda. Kami perhatikan semuanya, mulai dari suhu, tingkat kematangan, hingga bahan bakarnya. Kami menyangrainya pakai kayu bakar, bukan kompor. Kayunya pun bukan kayu sembarangan, tapi ada jenis-jenis tertentu, sehingga dihasilkan kopi yang enak dan harum," terang dia.
Ada tujuh varian kopi yang dijual. Yakni, Kopi Arabica, Robusta, Kopi Lanang Robusta, Kopi Lanang Arabica, Kopi Luwak, Houseblend Arabica dan Robusta, serta Houseblend Robusta dan Eselsa. "Biji kopinya kami beli dari petani kopi di seluruh Banyuwangi, jadi benar-benar kopi khas Banyuwangi," terang dia.
Hasilnya pun nyata. Pasar kopinya meluas, tak hanya dijual di toko milik keluarga, tapi juga di sejumlah distro di sekitar Banyuwangi dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Kampung Anyar. Tak hanya itu, Jajang juga mulai menawarkan produknya melalui media sosial seperti BBM, WA, facebook, instagram, line dan path.
"Sekarang yang beli kopi Manjene bukan hanya warga lokal, tapi juga wisatawan domestik dan turis asing yang sedang berlibur ke Banyuwangi. Senang sekali, berkat pariwisata Banyuwangi semakin berkembang, usaha kami juga ikut terangkat," kata jajang.
Saat ini, imbuh Jajang, dalam sebulan dirinyaa mampu menjual minimal sebanyak 60 pack bubuk kopi yang setiap pack-nya berisi 250 gram. Setiap pack, dipatok dengan harga yang bervariasi sesuai dengan jenisnya. Misalnya, untuk Kopi Arabica dia mematok Rp 45.000 per pack, Robusta Rp 30.000, Kopi Lanang Robusta Rp 45.000, Kopi Lanang Arabica Rp 60.000, dan Kopi Luwak Rp 250.000.
Tak hanya Jajang, juga ada Muhammad Efendi yang merasakan peningkatan penjualan kopinya. Pemuda karang taruna Desa Kemiren ini mengaku penjualan kopi di karang tarunanya meningkat. Dari hanya 45 pack, kini bisa laku hingga 80 pack per bulan. Dengan harga Rp 30.000 per pack (250 gram) untuk Robusta, dan Rp 35.000 per pack (125 gram) untuk Arabica.
"Bahkan kalau pas ada even, kami bisa menjual sampai 30 pack per hari," tutur Efendi.
Banyuwangi sendiri memproduksi kopi 9000 ton/tahun. Kopi yang diproduksi terdiri dari 90 persen jenis robusta dan 10 persen jenis arabica. Data mencatat, produksi kopi di Banyuwangi mencapai 8.047 ton pada 2015, meningkat dari tahun 2014 yang 7.992 ton. Angka produktivitasnya sendiri mencapai 19,49 kwintal per hektar.

Pembuka

Sebagai pengopi, dan cukup familiar dengan lingkungan perkopian rasanya wajib membuat satu akun blog tentang kopi. Meskipun belum tentu bisa rutin updatenya.
Familiar dengan lingkungan perkopian? hmmm, gak tahu ya apakah ini istilah yang tepat. Maksudnya gini, sejak kecil saya sudah suka minum kopi. Ya tentunya bukan pengopi reguler seperti sekarang. Ayah sayapun yang biasanya jadi icon pengopi di rumah, notabene bukan pengopi. Tapi kebetulan ibu sering membuatkan untuk beberapa golongan tamu yang termasuk pecinta kopi, sehingga stok kopi bubuk selalu ada di rumah. Kopi bubuk ini juga bukan yang ber merk seperti ka****pi, apalagi ex***so yang jaman itu belum ada. Juga bukan ne***fe karena kita bukan penggemar kopi extract, hehe.

Selain tahu dan doyan rasanya menyeruput kopi sejak kecil, saya juga mengenal pohon kopi. Saya rasa previleg ini tidak dimiliki oleh semua penggemar kopi. Saya banyak tahu karena perkebunan kopi tidak asing buat saya. Bukan saya hidup di area perkebunan kopi, tapi saya sering diajak ayah jalan-jalan ke area ini seperti di daerah Gumitir dan Kalibaru. Semacam agrowisata tanpa bermaksud wisata, begitulah. Selain itu, di rumah nenek saya di Banyuwangi dulu juga masih ada tanaman kopi beberapa pohon di halaman samping rumah, which is now turn to houses building.

Dan sekarang kopi sudah menjadi bagian dari hidup saya, bagian dari bangun pagi saya, bagian dari mood booster saya, bagian dari daftar belanja bulanan saya, dan beberapa warung kopi alias cafe menjadi bagian dari tempat nognkrong saya.

Jadi sebagai pembukaan, sekian dulu intro tentang blog kopi ini. Semoga akan bermanfaat untuk penulis dan pembaca.

Wassalam.