Rabu, 11 Januari 2017

Petualangan Kopi di Desa Gombengsari Kalipuro

Seiring pertumbuhan sektor pariwisata yang cukup pesat di Banyuwangi, berbagai potensi daerah dari kabupaten yang berada di ujung timur pulau Jawa ini pun semakin naik daun. Tak ketinggalan hasil perkebunan yang menjadi salah satu andalan yaitu kopi.

Kopi dan pariwisata ternyata merupakan kombinasi yang bisa menjadi primadona dan mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Sejalan dengan aktivitas ngopi sebagai kebiasaan yang semakin digemari dari berbagai lapisan usia dan tingkat perekonomian, sentra kopi di Banyuwangi ikut menikmati berkahnya.

Mungkin kawasan yang populer sebagai kampung kopi adalah desa Kemiren, tetapi  di desa ini sebetulnya tidak banyak tanaman kopi. Desa yang memiliki areal perkebunan kopi terluas adalah dusun Lerek, Gombengsari, Kalipuro. Daerah ini juga sudah sering diulas di beberapa berita, seperti di sini  dan di sini.

Saya beruntung saat jalan-jalan ke Banyuwangi tempo hari mendapat kesempatan untuk mengunjungi desa yang menjadi sentra penghasil kopi ini. Kami ditemani seorang guide turis  internasional Banyuwangi dan seorang wartawan kontributor Banyuwangi. Wah, gaya bener yaa, travellingnya pake guide! Haha, jangan salah, ini guidenya gratisan. Karena dua orang tadi adalah teman adik saya yang juga berdomisili di Banyuwangi.

Kami mendatangi lokasi dengan mengendarai motor. Luar biasa juga jalannya, ada satu jalan sempit dengan tanjakan hampir 90 derajat sehingga saya yang dibonceng harus turun dari motor. Tapi tenang saja, medannya tidak seburuk itu. Mobil juga bisa masuk tetapi melalui jalan lain yang agak jauh. Jadi kami memang ambil jalan pintas yang paling pendek untuk motor. Dari gerbang desa Gombengsari akan kita lihat tanaman kopi di kiri kanan sepanjang jalan. 

Setelah melewati tanjakan dan medan jalan perkebunan, sampailah kami di sebuah rumah cukup besar di tengah perkebunan kopi. Rumah yang merupakan sentra pengepul kopi di desa Lerek ini sudah jadi ‘langganan’ didatangi teman kami yang guide tersebut bersama tamu wisatawan asingnya. Jadi kalau kami datang ke sana, sang tuan rumah bukan merasa kedatangan tamu seperti para wisatawan, tapi seperti kedatangan saudara.

Udara saat itu yang dingin karena habis hujan, diimbangi dengan hangatnya sambutan tuan rumah yang super ramah, dan secangkir kopi yang masih panas. Bukan sembarang kopi yang disuguhkan untuk kami dan para pengunjung lain yang datang ke sini, tapi kopi terbaik yaitu kopi luwak. Saya sruput secangkir kopi luwak hangat itu sambil membayangkan berapa yang harus saya bayar kalo menikmatinya di café elit di mal-mal Jakarta. Di samping kopi luwak, mereka juga menyediakan satu teko kopi yang juga andalan desa ini yaitu jenis konega. Untuk kopi konega kita boleh ambil berapa cangkir pun, free flow. Selain kopi, kami juga disuguhi jajanan ndeso yang cocok banget buat lidah saya, gethuk dan iwel-iwel.

Bersamaan dengan kedatangan kami di rumah tersebut, ada 2 orang turis dari Singapore bersama driver pengantarnya. Karena tidak membawa guide, jadilah teman kami yang membantu menjelaskan tentang berbagai hal perkopian kepada turis ini. Mereka juga mendapat penjelasan dari pak Taufik sang tuan rumah tentang kopi Kalipuro dan tampak antusias mendengarkan, setelah itu mereka melihat proses roasting di dapur. Nampaknya tour kopi itu tidak sia-sia karena pulangnya mereka memborong 10 pack kopi luwak roasted seberat 250 gr !! Dan sayapun gak kebagian L  Perkiraan saya 10 pack kopi tersebut mungkin hanya seharga 2-3 cangkir kopi luwak di café-café di Singapore.

Penasaran dengan proses roasting, kamipun ke dapur melihat seorang ibu sedang mengayun-ngayunkan sutil (penggoreng) pada wajan gerabah berisi biji kopi di atas sebuah tungku. Saya ikut mencoba menyangrai alias meroasted kopi bersama sang ibu, tapi lengan saya tidak sekuat dia. Ya, untuk meroasted kopi, pertama kopi harus dibolak-balik terus agar matang merata, jadi tangan penyangrai tidak bisa diam sampai proses selesai. Kedua biji kopi yang masuk wajan tidak boleh terlalu banyak, mungkin hanya 500 gr, agar kematangannya pas. Ketiga diperlukan api yang stabil sehingga harus menggunakan kayu jenis tertentu. Untuk di sini mereka menggunakan kayu cengkih dan kayu kopi. Sementara menyangrai dan berfoto, teman kami yang wartawan menginterview pak Taufik untuk menggali informasi tentang histori perjuangan membentuk peguyuban petani kopi di desa ini.


Hamparan pohon kopi terlihat sejauh mata memandang ke halaman. Namun sepertinya saat ini belum masa panen, karena kami tidak melihat kopi yang sudah merah. Selain kopi, di halaman rumah juga terdapat peternakan kambing ettawa. Sebetulnya kita bisa memerah susu kambing ettawa di sini, (memerah gratis, bawa pulang susu bayar). Tapi karena waktu sudah senja dan sepertinya agak-agak segan mendekati kambing, maka kami tidak ikut coba memerah.


Setelah puas ngobrol, menikmati suguhan kopi dan jajanan, kami pun pamit dengan terlebih dulu memilih kopi yang kami bawa pulang. Akhirnya kami beli kopi konega bubuk, kopi robusta bubuk, dan kopi konega biji (roasted). Harga di sini di bawah harga yang sudah masuk ke toko, karena bisa dibilang ini tangan pertama. Tidak hanya puas dengan kopi, kami juga dibungkusin kue yang masih ada di piring. Sambil malu-malu kucing tapi mau, bungkusan kue itupun kami masukkan kantong plastik untuk dibawa pulang. Sungguh ketulusan dan keramahan warga desa ini menjadi nilai tambah dari wisata kopi yang ditawarkan desa Lerek Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi dan memberi kesan mendalam bagi kami.