Seiring pertumbuhan sektor pariwisata yang cukup pesat di
Banyuwangi, berbagai potensi daerah dari kabupaten yang berada di ujung timur
pulau Jawa ini pun semakin naik daun. Tak ketinggalan hasil perkebunan yang
menjadi salah satu andalan yaitu kopi.
Kopi dan pariwisata ternyata merupakan kombinasi yang bisa menjadi
primadona dan mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Sejalan dengan aktivitas
ngopi sebagai kebiasaan yang semakin digemari dari berbagai lapisan usia dan
tingkat perekonomian, sentra kopi di Banyuwangi ikut menikmati berkahnya.
Mungkin kawasan yang populer sebagai kampung kopi adalah
desa Kemiren, tetapi di desa ini
sebetulnya tidak banyak tanaman kopi. Desa yang memiliki areal perkebunan kopi
terluas adalah dusun Lerek, Gombengsari, Kalipuro. Daerah ini juga sudah sering
diulas di beberapa berita, seperti di sini dan di sini.
Saya beruntung saat jalan-jalan ke Banyuwangi tempo hari mendapat
kesempatan untuk mengunjungi desa yang menjadi sentra penghasil kopi ini. Kami
ditemani seorang guide turis internasional Banyuwangi dan seorang wartawan kontributor
Banyuwangi. Wah, gaya bener yaa, travellingnya pake guide! Haha, jangan salah,
ini guidenya gratisan. Karena dua orang tadi adalah teman adik saya yang juga
berdomisili di Banyuwangi.
Kami mendatangi lokasi dengan mengendarai motor. Luar biasa juga jalannya, ada satu jalan sempit dengan tanjakan hampir 90 derajat sehingga saya yang dibonceng harus turun dari motor. Tapi tenang saja, medannya tidak seburuk itu. Mobil juga bisa masuk tetapi melalui jalan lain yang agak jauh. Jadi kami memang ambil jalan pintas yang paling pendek untuk motor. Dari gerbang desa Gombengsari akan kita lihat tanaman kopi di kiri kanan sepanjang jalan.
Kami mendatangi lokasi dengan mengendarai motor. Luar biasa juga jalannya, ada satu jalan sempit dengan tanjakan hampir 90 derajat sehingga saya yang dibonceng harus turun dari motor. Tapi tenang saja, medannya tidak seburuk itu. Mobil juga bisa masuk tetapi melalui jalan lain yang agak jauh. Jadi kami memang ambil jalan pintas yang paling pendek untuk motor. Dari gerbang desa Gombengsari akan kita lihat tanaman kopi di kiri kanan sepanjang jalan.
Setelah melewati tanjakan dan medan jalan perkebunan, sampailah kami di sebuah rumah cukup besar di tengah perkebunan kopi. Rumah yang merupakan sentra pengepul kopi di desa Lerek ini sudah jadi ‘langganan’ didatangi teman kami yang guide tersebut bersama tamu wisatawan asingnya. Jadi kalau kami datang ke sana, sang tuan rumah bukan merasa kedatangan tamu seperti para wisatawan, tapi seperti kedatangan saudara.
Udara saat itu yang dingin karena habis hujan, diimbangi
dengan hangatnya sambutan tuan rumah yang super ramah, dan secangkir kopi yang
masih panas. Bukan sembarang kopi yang disuguhkan untuk kami dan para
pengunjung lain yang datang ke sini, tapi kopi terbaik yaitu kopi luwak. Saya
sruput secangkir kopi luwak hangat itu sambil membayangkan berapa yang harus
saya bayar kalo menikmatinya di café elit di mal-mal Jakarta. Di samping kopi
luwak, mereka juga menyediakan satu teko kopi yang juga andalan desa ini yaitu
jenis konega. Untuk kopi konega kita boleh ambil berapa cangkir pun, free flow.
Selain kopi, kami juga disuguhi jajanan ndeso yang cocok banget buat lidah
saya, gethuk dan iwel-iwel.
Bersamaan dengan kedatangan kami di rumah tersebut, ada 2
orang turis dari Singapore bersama driver pengantarnya. Karena tidak membawa
guide, jadilah teman kami yang membantu menjelaskan tentang berbagai hal perkopian kepada
turis ini. Mereka juga mendapat penjelasan dari pak Taufik sang tuan rumah tentang
kopi Kalipuro dan tampak antusias mendengarkan, setelah itu mereka melihat proses roasting
di dapur. Nampaknya tour kopi itu tidak sia-sia karena pulangnya mereka
memborong 10 pack kopi luwak roasted seberat 250 gr !! Dan sayapun gak kebagian
L Perkiraan saya 10 pack kopi tersebut mungkin
hanya seharga 2-3 cangkir kopi luwak di café-café di Singapore.
Penasaran dengan proses roasting, kamipun ke dapur melihat seorang
ibu sedang mengayun-ngayunkan sutil (penggoreng) pada wajan gerabah berisi biji
kopi di atas sebuah tungku. Saya ikut mencoba menyangrai alias meroasted kopi
bersama sang ibu, tapi lengan saya tidak sekuat dia. Ya, untuk meroasted kopi, pertama
kopi harus dibolak-balik terus agar matang merata, jadi tangan penyangrai tidak
bisa diam sampai proses selesai. Kedua biji kopi yang masuk wajan tidak boleh
terlalu banyak, mungkin hanya 500 gr, agar kematangannya pas. Ketiga diperlukan
api yang stabil sehingga harus menggunakan kayu jenis tertentu. Untuk di sini
mereka menggunakan kayu cengkih dan kayu kopi. Sementara menyangrai dan
berfoto, teman kami yang wartawan menginterview pak Taufik untuk menggali
informasi tentang histori perjuangan membentuk peguyuban petani kopi di desa ini.
Hamparan pohon kopi terlihat sejauh mata memandang ke
halaman. Namun sepertinya saat ini belum masa panen, karena kami tidak melihat
kopi yang sudah merah. Selain kopi, di halaman rumah juga terdapat peternakan
kambing ettawa. Sebetulnya kita bisa memerah susu kambing ettawa di sini, (memerah
gratis, bawa pulang susu bayar). Tapi karena waktu sudah senja dan sepertinya
agak-agak segan mendekati kambing, maka kami tidak ikut coba memerah.
Setelah puas ngobrol, menikmati suguhan kopi dan jajanan,
kami pun pamit dengan terlebih dulu memilih kopi yang kami bawa pulang.
Akhirnya kami beli kopi konega bubuk, kopi robusta bubuk, dan kopi konega biji
(roasted). Harga di sini di bawah harga yang sudah masuk ke toko, karena bisa
dibilang ini tangan pertama. Tidak hanya puas dengan kopi, kami juga
dibungkusin kue yang masih ada di piring. Sambil malu-malu kucing tapi mau,
bungkusan kue itupun kami masukkan kantong plastik untuk dibawa pulang. Sungguh
ketulusan dan keramahan warga desa ini menjadi nilai tambah dari wisata kopi
yang ditawarkan desa Lerek Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi dan memberi kesan mendalam bagi kami.
